Category: Artikel / Article


2. Ketua BPPD memaparkan Pengembangan Wisata berbasis Pesisir
PEMALANG – Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kabupaten Pemalang mendukung program Master Plan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI) yang difasilitasi oleh PNPM Mandiri Pedesaan. Program ini melibatkan empat desa di kecamatan Ulujami yaitu, desa Kaliprau, Kertosari, Blendung dan Ketapang. Dalam acara musyawarah antar desa (MAD) yang diselenggarakan di balai desa Kaliprau MP3KI ini memang agak berbeda dengan program yang selama ini dikerjakan oleh PNPM Mandiri pedesaan, yaitu tidak menitikberatkan pada infrastruktur semata akan tetapi harus mencakup lima asset penghidupan antara lain Infrastruktur, Sosial, SDM, financial dan SDA, demikian salah satu isi dari paparan yang disampaikan oleh Fasilitas Kabupaten PNPM Mandiri Pedesaan, Bayu.

Pada kesempatan yang sama Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Setya Teguh Yuwana, menyampaikan hal betapa pentingnya sinergisitas antar desa dan perlunya pengembangan kawasan pesisir berbasis pariwisata. Hal ini dilakukan karena sifat pariwisata yang memunyai efek berganda. Disampaikan pula bahwa di Pemalang perlu adanya wisata alternative sebagai daya tarik wisatawan agar lebih banyak berkunjung ke wilayah ini. Hal senada juga dismapaikan oleh Ka Bid Pemberdayaan Masyarakat Bapermas KB Kabupaten Pemalang, Sodik. Dia menandaskan bahwa pola pikir masyarakat ke empat desa tersebut harus dirubah untuk bisa menjual potensi pesisir yang ada, karena hal ini akan lebih meningkatkan pendapatan asli desa.

Di akhir acara disepakati oleh ke empat desa yang terlibat untuuk membentuk Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) yang bertugas untuk merumuskan, menyusun dan melaksanakan program MP3KI tersebut. (tgh)

Advertisements

AJ1 AJ5
Hulu sungai Comal berhasil ditaklukan oleh Bupati Pemalang, HM Junaedi, SH.MM beserta Sekretaris Daerah, dan para kepala SKPD di jajaran pemerintah kabupaten Pemalang dengan melakukan arung jeram di Rainbow Rafting desa Kecepit Randudongkal Pemalang (15/3). Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Bupati dan jajarannya sebelum acara dialog dengan awak media. Sebelum pengarungan dilakukan, terlebih dahulu dijelaskan teknis – teknis pengarungan oleh pengelola Rainbow Rafting Hani Gunanto. Setelah penjelasan teknis selesai Bupati dan rombongan langsung menuju ke titik start dengan berjalan kaki. Di sepanjang jalan Bupati Pemalanhg disambut oleh masyarakat sekitar, baik yang mengajak bersalaman ataupun foto bersama.
Pengarungan dilakukan selama kurang lebih dua jam dengan jrak tempuh sepanjang sembilan kilometer. Banyak kejadian yang asyik dan menegangkan selama dalam pengarungan.
“Wow luar biasa sungai Comal ini, perahu kami sampai terbalik, saya dengan beberapa teman lecet sedikit pada kaki.” tandas Kepala Satpol PP, Kisman. Hal senada juga disampaikan oleh beberapa peserta lainnya. Mereka mengatakan bahwa arung jeram di hulu sungai Comal ini sangat menantang, untuk itu diharapkan agar arung jeram ini bisa dijadikan sebaga salah satu obyek wisata andalan yang akan ikut meningkatkan kunjungan wisatawan ke Pemalang.

 

SMK Pariwisata Liberty Pemalang adalah SMK pariwisata satu-satunya di Pemalang. Dengan motto the only one and going to be number one, SMK Pariwisata Liberty Pemalang telah TERAKREDITASI dan dipercaya oleh puluhan hotel berbintang dan kapal pesiar untuk merekrut lulusannya bekerja di hotel-hotel berbintang dan kapal pesiar.

Tanggal 26 Januari 2013 ini saja SMK Pariwisata Liberty akan melakukan perekrutan dan penempatan kerja bagi 52 orang untuk bekerja di Solaria Restaurant.

Dengan didukung oleh Badan Promosi Pariwisata dan Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kab. Pemalang, SMK Pariwisata Liberty selalu menjamin kerja bagi lulusannya. Lulusan SMK Pariwisata Liberty Pemalang ini sudah banyak yang bekerja di banyak hotrel berbintang dan kapal pesiar.

 

SMK Pariwisata....4

URUN REMBUG PENGEMBANGAN SEKTOR PARIWISATA

BAGI RPJMD 2011 – 2016

 

Pendahuluan

Salah satu tulang punggung penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada era otonomi daerah adalah sektor kepariwisataan, mengingat sektor inilah yang sangat potensial menghasilkan pendapatan yang besar karena sifatnya yang multi sektoral dan multi-effects. Dengan berkembangnya sektor kepariwisataan akan mendukung income generating dari berbagai sisi mulai dari retribusi masuk obyek wisata, pajak hotel dan restoran, perijinan usaha pariwisata, di samping juga menyerap tenaga kerja baik dari sektor formal maupun informal. Mengingat demikian strategisnya posisi pengembangan sektor pariwisata maka developmental-planning-nya penting untuk dipikirkan. Pemalang adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki potensi wisata cukup berlimpah dan bervariasi. Obyek wisata di Pemalang dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu wisata alam serta wisata budaya.

Paparan ini merupakan urun rembug bagi Pemerintah Kabupaten Pemalang, khususnya dalam mengelola potensi kepariwisataan sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan formulasi kebijakan yang akan ditempuh nantinya, serta peluang dan tantangan apa yang menghadang.Untuk menempuh kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan tentunya sangat penting untuk mengetahui peta kondisi kepariwisataan Pemalang yang ada saat ini. Oleh sebab itu perlu dibahas beberapa faktor eksternal, internal, peluang dan hambatan, sehingga memudahkan policy makers memformulasikan kebijakannya

Permasalahan

Problematika yang dihadapi Pemalang dalam bidang kepariwisataan dari lingkungan internal. Dari perspektif publik tampak bahwa ada beberapa pekerjaan rumah yang perlu dipecahkan berkaitan dengan kondisi internal pengembangan kepariwisataan di Pemalang, yaitu:

  1. Implementasi kebijakan pengembangan obyek wisata yang belum optimal dilakukan, kendati potensi cukup tersedia.
  2. strategi promosi wisata yang cenderung masih konvensional.
  3. pelayanan dalam arti luas kepada wisatawan yang masih kurang terutama dalam pengamalan Sapta Pesona dari stake holders di bidang pariwisata khususnya.
  4. masih relatif lemahnya koordinasi antara pelaku pariwisata, Pemerintah Daerah dan pihak terkait.

Permasalahan yang kedua adalah faktor eksternal yang menunjukkan bahwa seiring belum pulihnya citra negatif negara kita di mata dunia internasional, khususnya dalam aspek keamanan dan kenyamanan, dunia pariwisata nasional mengalami penurunan wisatawan internasional yang cukup substantif, meskipun pada tataran wisatawan domestik cenderung tak terpengaruh. Kemudian wacana obyek wisata kumuh merupakan hambatan potensial kedatangan wisatawan.

Setelah mengetahui permaslahan dari faktor eksternal dan internal tersebut, maka perlu pula dirumuskan tentang peluang dan hambatan yang potensial muncul.
Adapun sejumlah peluang dan hambatan yang ada antara lain:

  1. Kebijakan Otonomi daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 32/2004 membuka peluang bagi daerah untuk mengoptimalkan sumberdaya yang dimilikinya. Di samping itu, peluang kerjasama antar daerah maupun dengan luar negeri pun dimungkinkan sebatas tidak mengganggu integrasi nasional. Dengan demikian sebenarnya Daerah memiliki kesempatan terbuka untuk mengembangkan sektor kepariwisataan, mulai dari perencanaan, penetapan peraturan kepariwisataan sesuai dengan potensi diri serta penetapan perjanjian kerjasama dengan daerah/kota di dalam negeri bahkan dengan kota lain di luar negeri. Sister city adalah salah satu bentuk perwujudannya. Namun yang paling utama adalah perlu penyiapan Sumberdaya manusia yang handal untuk mewujudkan kerjasama tersebut.
  2. Pemalang memiliki variasi obyek wisata yang beragam mulai dari obyek wisata alam dan budaya yang sangat potensial untuk mendatangkan wisatawan.
  3. Posisi Pemalang yang belum merupakan daerah tujuan wisata yang cukup dominan (sering tidak terdapat dalam peta) sangat tidak menguntungkan untuk menarik wisatawan karena obyek – obyek wisata yang ada belum begitu dikenal, disamping belum tertata secara optimal baik dari segi fisik maupun manajemennya.
  4. Sebagai kabupaten yang dikelilingi sejumlah Obyek Wisata ternama di Kabupaten tetangga (Guci di Kab. Tegal dan Owa Bong di Kab. Purbalingga) belum dapat memanfaatkan secara optimal Jalur Wisata Terpadu Lintas Regional (Tourism Cluster)

Dan tantangan utama yang muncul adalah potensi persaingan yang semakin terbuka dengan daerah lain pada era global ini untuk memperebutkan wisatawan, khususnya wisatawan nusantara yang relatif tak terpengaruh krisis. Oleh sebab itu sangat dibutuhkan strategi untuk mengembangkan kepariwisataan di Pemalang agar dapat bersaing dengan daerah lain

Pemecahan Masalah

Ada beberapa pemikiran yang dapat dijadikan pertimbangan guna memajukan kepariwisataan di Pemalang :

  1. Berkaitan dengan implementasi kebijakan pengembangan pariwisata yang belum optimal, perlu ditindaklanjuti dengan studi pengembangan obyek wisata yang saat ini sudah dibangun dengan dana Milyaran rupiah yaitu Water Boom Widuri. Dengan kata lain, keterlibatan stake holder pariwisata dalam menentukan arah dari pengembangan Water Boom Widuri perlu dioptimalkan. Hal ini memang harus dilakukan, karena Sektor Pariwisata mempunyai multiplier effect yang sangat luar biasa bagi perkembangan ekonomi suatu daerah. Pengembangan Destinasi Wisata di daerah punggung yang cukup potensial yaitu Kawasan Moga Indah, Portofolio Desa Wisata Cikendung yang cukup menjanjikan, serta lahan seluas 40 Hektar yang dikelola oleh PT Estu Subur bisa menjadi alternatif pengembangan wisata di Kabupaten Pemalang
  2. Berkaitan dengan masih konvesionalnya cara-cara promosi yang dilakukan selama ini seperti penerbitan bahan cetak baik booklet maupun leaflet, promosi tatap muka baik dengan model pameran maupun travel dialogue, serta promosi melalui media massa, ada baiknya mengikuti kemajuan jaman dengan membuka Situs Pariwisata Kabupaten Pemalang di dunia maya/internet tanpa mengesampingkan cara-cara sebelumnya. Sebagai contoh Yogyakarta, selain merangkul stake holder pariwisata juga telah merangkul para blogger. Komunitas dunia maya yang tumbuh bersama kemajuan teknologi internet itu dinilai memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap kondisi sosial sekitarnya. Kepedulian itu terbukti dari kebiasaan memasang tautan ke situs-situs yang memuat informasi menarik dan visi sosial tertentu. Didukung aktivitas blogger dalam menjalin persahabatan dan berbagi informasi, informasi itu diharapkan dapat tersebar secara cepat dengan jangkauan luas. Dengan demikian, semakin banyak calon wisatawan yang mengetahui tempat-tempat menarik di Wilayah Pemalang dan terdorong untuk mengunjunginya.
  3. Di era good governance sekarang ini, model pelayanan publik yang kurang nyaman,

bertele-tele, lamban apalagi dengan muka masam, sudah selayaknya ditinggalkan. Oleh karena itu menjadikan Sapta Pesona pariwisata ( aman, nyaman, indah, tertib, bersih, ramah-tamah dan kenangan) sebagai pedoman insan pelaku pariwisata harus dimulai dari keteladanan para birokratnya.

4.  Untuk meningkatkan kunjungan wisnus ke Pemalang, maka perlu diversifikasi produk wisata untuk tetap menjaring kunjungan wisnus tersebut. Misalnya dengan mengadakan event yang menyorot perhatian publik, khususnya anak muda di obyek wisata tersebut seperti parade seni budaya, musik, moto-cross, out bond, berkuda serta agro wisata dan lainnya.

Simpulan dan Saran

Guna menjawab satu tantangan besar yaitu semakin terbukanya persaingan antar daerah dalam menarik kunjungan wisatawan, maka perlu ditempuh beberapa upaya, antara lain pembentukan Tourism Cluster dengan Kabupaten / Kota tetangga. Di jaman yang serba transparan sekarang ini sebaiknya bekerjasama dalam rangka kompetisi sehat.

Langkah pertama, rumuskan rambu-rambu, aturan dan bentuk kerjasama yang disepakati bersama, kemudian tuangkan dalam nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) yang ditandatangani Kepala Daerah. Apakah Kabupaten Pemalang telah masuk ke dalam JAVA PROMO, Yaitu Kerjasama Pariwisata antara 14 Kab/Kota di Jawa Tengah-DIY?

Akhirnya, harus disadari bersama seperti di awal tulisan ini bahwa sektor pariwisata adalah multisektoral dan multi-efek. Oleh karena itu segala permasalahan sektor ini tidak dapat berdiri sendiri atau instansional, melainkan harus lintas sektoral, sebab hakekat kegiatan pariwisata yang sebenarnya adalah kegiatan lintas budaya, wilayah, lintas ras bahkan agama. Dengan adanya pemahaman yang demikian tersebut akan memudahkan untuk duduk dalam satu lingkaran untuk membahas peluang dan tantangan di Era Otonomi Daerah khususnya di bidang pariwisata.

Semoga Kabupaten Pemalang dapat lebih arif dalam menyikapi persoalan yang timbul di seputar dunia pariwisata.

Semoga bermanfaat

Tanggal 13 September 2012, Pelaku usaha wisata se Jawa Bali dan Lampung berkumpul di Regina Hotel Pemalang dalam rangka Halal Bi Halal dan Silaturahim antar pelaku wisata. Acara ini dihadiri oleh sekitar 270 orang utusan dari BPW, Gosipa, PPW, Asita, Bis pariwisata, Pusat Oleh-oleh, ini juga dihadiri oleh Bupati Pemalang, H. Junaedi SH, MH, Kepala Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kab. Pemalang, Drs. Sultanto, serta Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kabupaten Pemalang, Setya Teguh Yuwana.

On 13rd of September 2012, tourism business owner from Java, Bali and Lampong has been gathered in Regina Hotel Pemalang. The event attended about 270 persons. They are Tour operators, Transportation Provider, Souvenir Counter, etc, also the regent of Pemalang Mr. Junaedi SH MH, The chief culture & tourism office, and chief of Tourism Promotion Board.

 

Pada kegiatan ini, selain bersilaturahim, Peserta juga diajak melakukan city tour di kota Pemalang, tempat yang dikunjungi antara lain UKM Kamir Pemalang, Batik Warna Alam, Sarung Goyor “Toldem” dan diakhiri gelar kuliner di Pantai Widuri dan disajikan seni tradisonal “silakupang”, seni tradisi asli Pemalang.

In the event, all participants brought to many interesting places in Pemalang, namely “Kamir” traditional cake, Natural Color Batiks, Traditional Sarong, and closed by traditional attraction “Silakupang” (Sintren-Lais-Kida Kepang)

 

 

 

Dalam rangka hari jadi Kabu4paten Pemalang yang ke 437, Pemkab Pemalang menyelenggarakan kirab budaya yang diikuti oleh beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah. Sebuah langkah yang patut diacungi JEMPOL, betapa tidak dengan semangat menggebu H. Junaedi, SH. MM menjadi satu-satunya Bupati Pemalang yang berani mengambil keputusan untuk menghidupkan suasana masa – masa Pangeran Benowo menjadi Adipati pertama di Pemalang. Dengan rangkaian acara yang romantis historis religius, dimulai dari khataman Al-Qur’an di Pendopo, dilanjutkan dengan Kirab Kereta Kencana & Pataka Kabupaten Pemalang, Parade Budaya dan Kesenian Tradisional dan ditutup kegiatan Pemalang Berdzikir dengan mengundang Kyai Muhammad Arfin Ilham. Sebuah acara yang yang sangat spektakuler, dan diharapkan akan menjadi kalender tahunan serta bisa dijual sebagai atraksi wisata…

Berjuang Pemalangku……. Sehatlah Pemalangku…. Cerdaslah Pemalangku…….Berdayasainglah Pemalangku…….dan Berakhalqul kharimah-lah Pemalangku…

salah satu grup kesenian yang meramaikan hari jadi Pemalang

r

Lomba Burung yang makin marak belakangan ini menjadi fenomena tersendiri. Banyaknya peserta yang makin meningkat dari tahun ke tahun menjadikan Lomba Burung menjadi salah satu alternatif untuk menarik wisatawan, yang mempunyai multiplier effect terhadap peningkatan ekonomi kerakyatan. Betapa tidak, dari beberapa lomba burung yang sudah menjadi event tahunan, seperti Piala Raja, BSD Cup, Kicau Mania Cup menjadikan suatu daerah menjadi ramai. Tingkat hunian hotel meningkat, usaha kuliner menjadi marak bahkan pedagang kaki lima pun mendapatkan rejeki di tiap – tiap lomba burung.

Lomba Burung sebagai salah satu atraksi wisata mulai dilirik oleh para pelaku pariwisata, salah satunya adalah Pemkab Kabupaten Pemalang yang baru saja menyelenggarakan Bupati Cup sekaligus Promosi Widuri Water Park. Dengan menggandeng produsen pakan dan vitamin burung B ’N R, pemkab berhasil menyelenggarakan lomba burung yang cukup berkualitas, meski gaungnya tidak sedahsyat Piala Raja di Yogyakarta, akan tetapi hal ini sudah menjadi tanda bahwa Lomba Burung yang tadinya hanya sebatas pada kontes belaka bisa dinaikkan fungsinya sebagai ajang atraksi maupun promosi pariwisata.

Salah satu tulang punggung penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada era otonomi daerah adalah sektor kepariwisataan, mengingat sektor inilah yang sangat potensial menghasilkan pendapatan yang besar karena sifatnya yang multisektoral dan multi-effects. Dengan berkembangnya sektor kepariwisataan akan mendukung income generating dari pelbagai sisi mulai dari retribusi masuk obyek wisata, pajak hotel dan restoran, perijinan usaha pariwisata, di samping juga menyerap tenaga kerja baik dari sektor formal maupun informal. Mengingat demikian strategisnya posisi pengembangan sektor pariwisata maka developmental-planning-nya penting untuk dipikirkan.Pemalang adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki potensi wisata cukup berlimpah dan bervariasi. Obyek wisata di Pemalang dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu wisata alam serta wisata budaya.
Paparan ini merupakan urun rembug bagi Pemerintah Kabupaten Pemalang, khususnya dalam mengelola potensi kepariwisataan sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan formulasi kebijakan yang akan ditempuh nantinya, serta peluang dan tantangan apa yang menghadang.Untuk menempuh kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan tentunya sangat penting untuk mengetahui peta kondisi kepariwisataan Pemalang yang ada saat ini. Oleh sebab itu perlu dibahas beberapa faktor eksternal, internal, peluang dan hambatan, sehingga memudahkan policy makers memformulasikan kebijakannya.Tahap evaluasi ini adalah yang pertama perlu dilakukan untuk memetakan problematika yang dihadapi Pemalang dalam bidang kepariwisataan dari lingkungan internal. Dari perspektif publik tampak bahwa ada beberapa pekerjaan rumah yang perlu dipecahkan berkaitan dengan kondisi internal pengembangan kepariwisataan di Pemalang, yaitu:
Pertama, Implementasi kebijakan pengembangan obyek wisata yang belum optimal dilakukan, kendati potensi cukup tersedia.
Kedua, strategi promosi wisata yang cenderung masih konvensional.
Ketiga, pelayanan dalam arti luas kepada wisatawan yang masih kurang terutama dalam pengamalan Sapta Pesona dari stake holders di bidang pariwisata khususnya.
Keempat, masih relatif lemahnya koordinasi antara pelaku pariwisata, Pemerintah Daerah dan pihak terkait.Tahap berikutnya adalah evaluasi faktor eksternal yang menunjukkan bahwa seiring belum pulihnya citra negatif negara kita di mata dunia internasional, khususnya dalam aspek keamanan dan kenyamanan, dunia pariwisata nasional mengalami penurunan wisatawan internasional yang cukup substantif, meskipun pada tataran wisatawan domestik cenderung tak terpengaruh. Kemudian wacana obyek wisata kumuh merupakan hambatan potensial kedatangan wisatawan. Setelah mengetahui peta kelemahan dari faktor eksternal dan internal tersebut, maka perlu pula dirumuskan tentang peluang dan hambatan yang potensial muncul.
Adapun sejumlah peluang dan hambatan yang ada antara lain:
Pertama, kebijakan Otonomi daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 32/2004 membuka peluang bagi daerah untuk mengoptimalkan sumberdaya yang dimilikinya. Di samping itu, peluang kerjasama antar daerah maupun dengan luar negeri pun dimungkinkan sebatas tidak mengganggu integrasi nasional. Dengan demikian sebenarnya Daerah memiliki kesempatan terbuka untuk mengembangkan sektor kepariwisataan, mulai dari perencanaan, penetapan peraturan kepariwisataan sesuai dengan potensi diri serta penetapan perjanjian kerjasama dengan daerah/kota di dalam negeri bahkan dengan kota lain di luar negeri. Sister city adalah salah satu bentuk perwujudannya. Namun yang paling utama adalah perlu penyiapan Sumberdaya manusia yang handal untuk mewujudkan kerjasama tersebut.
Kedua, Pemalang memiliki variasi obyek wisata yang beragam mulai dari obyek wisata alam dan budaya yang sangat potensial untuk mendatangkan wisatawan.Ketiga, posisi Pemalang yang belum merupakan daerah tujuan wisata yang cukup dominan (sering tidak terdapat dalam peta) sangat tidak menguntungkan untuk menarik wisatawan karena obyek – obyek wisata yang ada belum begitu dikenal, disamping belum tertata secara optimal baik dari segi fisik maupun manajemennya.
Keempat, sebagai kabupaten yang dikelilingi sejumlah Obyek Wisata ternama di Kabupaten tetangga (Guci di Kab. Tegal dan Owa Bong di Kab. Purbalingga) belum dapat memanfaatkan secara optimal Jalur Wisata Terpadu Lintas Regional (Tourism Cluster)
Dan tantangan utama yang muncul adalah potensi persaingan yang semakin terbuka dengan daerah lain pada era global ini untuk memperebutkan wisatawan, khususnya wisatawan nusantara yang relatif tak terpengaruh krisis. Oleh sebab itu sangat dibutuhkan strategi untuk mengembangkan kepariwisataan di Pemalang agar dapat bersaing dengan daerah lain.Ada beberapa pemikiran yang dapat dijadikan pertimbangan guna memajukan kepariwisataan di Pemalang.
Pertama, berkaitan dengan implementasi kebijakan pengembangan pariwisata yang belum optimal, perlu ditindaklanjuti dengan studi pengembangan obyek wisata yang saat ini tengah dibangun dengan dana Milyaran rupiah yaitu Water Boom Widuri. Dengan kata lain, keterlibatan stake holder pariwisata dalam menentukan arah dari Pembangunan Water Boom Widuri perlu dioptimalkan. Hal ini memang harus dilakukan, karena Sektor Pariwisata mempunyai multiplier effect yang sangat luar biasa bagi perkembangan ekonomi suatu daerah. Proposal / Usulan yang sudah pernah diajukan oleh kami maupun barang kali stake holder yang lain perlu dipertimbangkanKedua, berkaitan dengan masih konvesionalnya cara-cara promosi yang dilakukan selama ini seperti penerbitan bahan cetak baik booklet maupun leaflet, promosi tatap muka baik dengan model pameran maupun travel dialogue, serta promosi melalui media massa, ada baiknya mengikuti kemajuan jaman dengan membuka Situs Pariwisata Kabupaten Pemalang di dunia maya/internet tanpa mengesampingkan cara-cara sebelumnya.Sebagai contoh Yogyakarta, selain merangkul stake holder pariwisata juga telah merangkul para blogger. Komunitas dunia maya yang tumbuh bersama kemajuan teknologi internet itu dinilai memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap kondisi sosial sekitarnya. Kepedulian itu terbukti dari kebiasaan memasang tautan ke situs-situs yang memuat informasi menarik dan visi sosial tertentu. Didukung aktivitas blogger dalam menjalin persahabatan dan berbagi informasi, informasi itu diharapkan dapat tersebar secara cepat dengan jangkauan luas. Dengan demikian, semakin banyak calon wisatawan yang mengetahui tempat-tempat menarik di Wilayah Pemalang dan terdorong untuk mengunjunginya.
Di era good governance sekarang ini, model pelayanan publik yang kurang nyaman, bertele-tele, lamban apalagi dengan muka masam, sudah selayaknya ditinggalkan. Oleh karena itu menjadikan Sapta Pesona pariwisata ( aman, nyaman, indah, tertib, bersih, ramah-tamah dan kenangan) sebagai pedoman insan pelaku pariwisata harus dimulai dari keteladanan para birokratnya. Berikutnya, untuk meningkatkan kunjungan wisnus ke Pemalang, maka perlu diversifikasi produk wisata untuk tetap menjaring kunjungan wisnus tersebut. Misalnya dengan mengadakan event yang menyorot perhatian publik, khususnya anak muda di obyek wisata tersebut seperti parade

seni budaya, musik, moto-cross dan sebagainya. Guna menjawab satu tantangan besar yaitu semakin terbukanya persaingan antar daerah dalam menarik kunjungan wisatawan, maka perlu ditempuh beberapa upaya, antara lain pembentukan Tourism Cluster dengan Kabupaten / Kota tetangga. Di jaman yang serba transparan sekarang ini sebaiknya bekerjasama dalam rangka kompetisi sehat. Langkah pertama, rumuskan rambu-rambu, aturan dan bentuk kerjasama yang disepakati bersama, kemudian tuangkan dalam nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) yang ditandatangani Kepala Daerah. Apakah Kabupaten Pemalang telah masuk ke dalam JAVA PROMO, Yaitu Kerjasama Pariwisata antara 14 Kab/Kota di Jawa Tengah-DIY?
Akhirnya, harus disadari bersama seperti di awal tulisan ini bahwa sektor pariwisata adalah multisektoral dan multi-efek. Oleh karena itu segala permasalahan sektor ini tidak dapat berdiri sendiri atau instansional, melainkan harus lintas sektoral, sebab hakekat kegiatan pariwisata yang sebenarnya adalah kegiatan lintas budaya, wilayah, lintas ras bahkan agama. Dengan adanya pemahaman yang demikian tersebut akan memudahkan untuk duduk dalam satu lingkaran untuk membahas peluang dan tantangan di Era Otonomi Daerah.
Semoga Kabupaten Pemalang dapat lebih arif dalam menyikapi persoalan yang timbul di seputar dunia pariwisata.
Semoga bermanfaat.